Problem Irigasi Pertanian Tondong Tallasa

Sebagian besar wilayah Indonesia adalah kepulauan dengan wilayah daratan yang berpotensi, kaya akan sumber daya alam (SDA). Di bidang pertanian misalnya mampu memproduksi beras dalam skala besar tiap tahunnya. Berdasarkan data statistik impor beras Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan. Di tahun 2017 kemarin impor beras Indonesia sebesar 3.500 ton per tahun dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai rata-rata 900-an ton per tahunnya

Namun masih perlu upaya dan strategi di negera ini, masih terdapat beberapa daerah yang perlu peningkatan mutu pertanian. Mulai dari infrastruktur, irigasi, pemeliharaan, sampai pada produksi. Jika ini disetarakan dan realisasi maka Indonesia akan menjadi pengimpor beras terbesar lagi, masyarakat pun makin sejahtera.

Di Sulawesi Selatan,  tepatnya di Kab. Pangkep terdapat beberapa wilayah Desa memerlukan perhatian, khususnya  wilayah pegunungan. Seperti Tondong Tallasa sebuah kecamatan yang terdiri dari enam desa bermuka bumi pegunungan ini patut di acungkan perhatian. Problemnya adalah irigasi (pengairan). Jika biasanya bersawahan dua hingga tiga kali setahun, di wilayah ini hanya sekali setahun. Itupun terkadang dengan hasil yang kurang produktif. 

Berbagai jenis bantuan,  seperti mesin traktor, mesin pumpa air, bibit, dan lainnya yang di luncurkan hampir tiap tahunnya sepertinya belum memuaskan hasil.  Maka tak salah jika sebagian warga memilih kerjaan tambahan disamping berkebun untuk kesejahteraan.

Dari awak media menjumpai petani di Tondong Tallasa, salah satunya Pak Ranru warga Desa Bulu Tellue yang bergantung pada air hujan. Letak sawahnya yang jauh dari jalan poros, bertangga dan berbukit , jenis sawah semacam ini mengharuskannya menunggu bantuan air dari langit. "Attajang mamiki bosi bara kaereangji galunga. Punna tena na bosi  amantang sengki attajangi sanggenna nie pammasena Allah Ta'ala" (hanya mengharap dari air hujan semoga sawah kami berair.  Kalau tidak langsung ada hujan, menunggu sampai adanya berkah dari Tuhan),  tuturnya dalam bahasa Makassar versi Bulu Tellue. 

Kembali kepada permasalahan irigasi. Mari kita tengok daerah sebelah,  Kab. Bone dengan kedua bendungannya. Bendungan Salomekko, rancangan bendungan dan irigasi berketahanan besar tipe konstruksi bangunan concrete face rock fill (CFRFD). Jenis bendungan yang hanya ada dua di Indonesia selain di Jawa Barat (bendungan Cirata) dan satunya Bone memiliki Bendungan Ponre-ponre yang ada di Kecamatan Libureng. Begitupun Kab. Bantaeng buah pikir Nurdin Abdullah membangun bendungan (Batu Massong) yang mampu mengatasi banjir dikala musim hujan sekaligus mengatasi kekeringan di musim kemarau secara drastis. Sepertinya harus ada langkah sulutif pertanian bagi Kec. Tondong Tallasa akan bendungan.

Baktiar. 
SM-3T VI UNM. 
PPG SM-3T 2018

Comments

Popular posts from this blog

Tondong Tallassa Sebagai Penyedia Bahan Baku batu bara dan silika